Artikel Properti

Pada halaman ini anda bisa membaca artikel-artikel terkait dunia properti, baik properti syariah secara khusus maupun properti secara umum.


5 KEUNTUNGAN TINGGAL DI CLUSTER

Tinggal di lingkungan cluster baik itu townhouse atau perumahan memberikan keuntungan tersendiri bagi penghuninya, berikut beberapa diantaranya:

  1. Keamanan lebih terjamin, single gate atau one gate system memungkinkan petugas keamanan untuk memantau akses masuk dan keluar perumahan.
  2. Privasi lebih terjaga karena jumlah unit yang terbatas.
  3. Memberikan keleluasaan dan kenyamanan bagi anak-anak untuk bermain di sekitar rumah karena bebas dari lalu lalang kendaraan umum.
  4. Pengembang biasanya memfasilitasi pemasangan listrik, telepon, dan pengairan. Jika Anda membangun rumah sendiri, maka hal itu harus diurus sendiri.
  5. Tinggal di cluster atau town house memberikan prestise tersendiri bagi penghuninya.

7 KEUNTUNGAN MEMBELI RUMAH DI PROPERTI SYARIAH

Dikutip dari: https://propertisyariahcirebon.com/7-keuntungan-membeli-rumah-di-properti-syariah/, berikut adalah keuntungan-keuntungan yang bisa kita dapat dari membeli rumah di properti syariah:

  1. Terhindar dari dosa RIBA.
  2. Mendapatkan lingkungan dan tetangga yang seakidah dan memperhatikan agama sehingga mendatangkan rasa nyaman dan aman bagi diri sendiri dan keluarga.
  3. Menggunakan akad istishna (pesan bangun) bagi rumah inden sehingga melindungi kita dari kecurangan dan kelalaian developer.
  4. Tidak ada sita secara paksa dan dzhalim. Ada solusi apabila terjadi kredit macet yaitu dengan menjualkan objek akad dengan cara yang baik dan benar.
  5. Setelah melakukan akad istishna (pesan bangun) di awal maka status kepemilikan rumah dan tanah langsung menjadi hak konsumen.
  6. Terdapat hak khiyar (hak pilih) apakah kita mau melanjutkan transaksi atau membatalkan transaksi apabila terdapat cacat atau kekurangan pada hasil pembangunan oleh developer.
  7. Margin profit (keuntungan) yang diambil developer pada harga kredit atau angsuran biasanya jauh dibawah suku bunga lembaga keuangan ribawi.

9 BIAYA TAMBAHAN KETIKA MEMBELI RUMAH / TANAH

Pada proses jual-beli rumah/tanah terdapat biaya-biaya lain selain Harga Jual yang harus dikeluarkan baik oleh pembeli ataupun penjual. Banyak orang kurang mengetahui hal ini sehingga mereka merasa kaget dengan total biaya yang harus dikeluarkan saat proses jual-beli rumah/tanah.

Biaya-biaya tambahan tersebut antara lain:

  1. Biaya Cek Sertifikat
    Tujuannya untuk mengetahui bahwa properti yang akan dibeli tidak berada di atas lahan sengketa. Dilakukan di kantor BPN, syarat pengajuannya adalah sertifikat asli dan kondisi rumah yang dibeli tidak dalam sengketa (catatan blokir, sita dari bank, sertifikat ganda, dan sebagainya).
    Nilai biaya yang dibebankannya pun berbeda–beda tergantung dari wilayahnya. Namun, umumnya berkisar antara Rp 50.000 sampai Rp 300.000.
  2. PPh (Pajak Penghasilan)
    Umumnya dibebankan kepada penjual sebesar 5% dari harga jual.
    Contoh, jika Anda menjual rumah seharga Rp 1.000.000.000, maka biaya PPh yang dikeluarkan adalah 5% x Rp 1.000.000.000 = Rp 50.000.000,-.
  3. BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)
    Merupakan pajak jual–beli yang dibebankan kepada pembeli. Nilainya 5% dari harga beli dikurangi NJOPTKP/NPTKP (Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak). Besaran NJOPTKP berbeda–beda tergantung dari wilayahnya.
    Contoh, jika Anda membeli rumah seharga Rp 500.000.000 dengan NJOPTKP/NPTKP senilai Rp 60.000.000, maka biaya BPHTB yang dikeluarkan pembeli adalah 5% x (Rp 500.000.000 – Rp 60.000.000) = Rp 22.000.000,-
  4. PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
    Dibebankan kepada pembeli untuk properti primary (rumah baru) senilai 10% dari harga rumah. Properti yang kena PPN nilainya di atas Rp 36 juta.
    Contoh, jika Anda membeli rumah seharga Rp 500.000.000, maka biaya PPN yang dikeluarkan adalah 10% x Rp 500.000.000 = Rp 50.000.000,-
  5. PPnBM (Pajak Penjualan Barang Mewah)
    Dibebankan kepada pembeli properti yang tergolong barang mewah. Untuk saat ini, properti yang tergolong PPnBM adalah bila luas bangunannya di atas 150 m2. Besarannya adalah 20% dari harga jual. Dan perlu diketahui, PPnBM tidak berlaku untuk jual-beli rumah/tanah antar perorangan, PPnBM hanya berlaku jika pihak pembeli membeli properti langsung dari developer.
  6. Biaya AJB (Akta Jual Beli)
    Sebelum mengurus AJB, ada beberapa prosedur yang harus dipenuhi seperti pemeriksaan sertifikat, pembayaran PBB, melunasi PPh, BPHTB dan syarat lainnya. Biasanya adalah 0,5%-1% dari harga jual. Biaya AJB ditanggung oleh pembeli, tapi bisa juga melalui kesepakatan antar penjual dan pembeli supaya biaya tersebut ditanggung bersama.
    Perlu diketahui, menurut PP No.37 tahun 1998 pasal 2 ayat 1, AJB dibuat oleh PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah), bukan notaris ataupun BPN.
  7. BBN (Biaya Balik Nama)
    Diurus oleh PPAT setempat bersamaan dengan AJB. Proses balik nama baru bisa dikeluarkan jika masing-masing dari pembeli dan penjual telah melunasi PPh, BPHTB, PBB, serta syarat lainnya.
    Umumnya, balik nama paling cepat 2 minggu dan paling lama 3 bulan karena kantor PPAT mengurus balik nama sertifikat ke kantor BPN secara kolektif. Besar biayanya adalah (1/1000 x NJOP) + Rp 50.000. Besar NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) berbeda-beda tergantung dari lokasi rumah tersebut.
  8. PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)
    Biasanya dibayarkan sekaligus saat pengajuan BBN dengan anggaran (1/1000 x harga jual rumah) + Rp 50.000. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku di BPN telah mengatur hal ini.
  9. Biaya Notaris
    Ada beberapa hal terkait jual–beli rumah/tanah yang perlu melibatkan notaris, di antaranya adalah:

    • Biaya cek sertifikat, Rp 100.000
    • Biaya SK, Rp 1.000.000
    • Biaya validasi pajak, Rp 200.000
    • Biaya AJB, Rp 2.400.000
    • Biaya BBN, Rp 750.000
    • Biaya SKHMT (Surat Kuasa Hak Membebankan hak Tanggungan) apabila kredit, Rp 250.000
    • Biaya APHT (Akte Pemberian Hak Tanggungan) apabila kredit, Rp 1.200.000

    Jika ditotal, semua biaya untuk notaris sekitar Rp 5.000.000. Namun, biaya ini tergantung dari notaris yang ditunjuk. Biaya bisa saja lebih mahal dari itu, atau bahkan lebih murah.

(Sumber: finance.detik.com)


TIPS AGAR BISA MEMBELI RUMAH DI TENGAH KENAIKAN HARGA PROPERTI SETIAP TAHUNNYA

 .
Dalam kondisi perekonomian yang stabil, rata-rata kenaikan harga properti berkisar 10% – 20% per tahun. Pada periode 2010 – 2013 harga properti tercatat naik 30% – 40% setiap tahunnya. Bahkan di daerah premium seperti Serpong dan Tangerang, harga bisa naik 60% – 70% per tahun.
(properti.bisnis.com)
 .
Di tahun 2018 indeks harga properti residensial (IHPR) mengalami kenaikan sebesar 1,42% pada kuartal I 2018. Data ini sendiri didapat dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia. Angka kenaikan ini sendiri lebih tinggi dibandingkan IHPR kuartal sebelumnya yaitu 0,55%. Disebutkan, kenaikan harga ini terjadi merata pada seluruh tipe rumah khususnya rumah mungil.
(blog.urbanindo.com)
 .
Cukup banyak faktor yang bisa memengaruhi kenaikan harga properti residensial, diantaranya adalah bertambahnya jumlah penduduk, inflasi, dan merangkaknya harga material bahan bangunan.
.
Lalu bagaimana kiat agar kita bisa memiliki rumah?
1. Mengatur Keuangan
Masih mengutip dari blog.urbanindo.com, ada sebuah metode LTD yang bisa kita lakukan, yaitu membagi pos keuangan baik itu untuk tabungan membeli rumah, kebutuhan sehari-hari, serta kebutuhan lainnya.
LTD adalah singkatan dari “Lima puluh, Tiga puluh, Dua puluh”.
Sisihkan pemasukan kita sebesar 50% untuk kebutuhan jasmani atau kebutuhan primer sehari-hari (makan, kebutuhan pribadi, transportasi, hingga biaya uang sewa rumah), 30% nya untuk kebutuhan rohani seperti liburan dan berderma, dan 20% untuk tabungan membeli rumah ataupun menyicil rumah.
.
Atau jika kita mau mengikuti metode salah seorang sahabat rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka penghasilan yang kita dapat setiap bulannya kita bagi menjadi 3.
1/3 untuk kebutuhan kita, 1/3 untuk shodaqoh, dan 1/3 digunakan menjadi modal usaha. Siapa tahu dari hasil usaha tersebut Alloh karuniai kita kemampuan membeli rumah tanpa menyicil.
.
2. Disiplin, Membedakan antara Kebutuhan dengan Keinginan
Gaya hidup sering menjadi kendala orang menabung. Akibat gaya hidup, orang tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan orang yang bila tidak terpenuhi bisa mengganggu kelangsungan hidupnya. Sedangkan keinginan adalah hasrat atau perluasan kebutuhan yang jika tak terpenuhi tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup seseorang. Makan adalah kebutuhan. Tapi, makan di restoran adalah keinginan.
.
Kendaraan, hangout dan gadget mungkin memang sudah menjadi kebutuhan orang terutama di kota-kota selain makan-minum, pakaian, kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal. Tapi, traveling atau kongkow di tempat-tempat favorit dan gadget yang harus selalu nge-tren selain kendaraan adalah keinginan, bukan kebutuhan.
.
“Kalau hasrat atau keinginan yang lebih didahulukan, kita tidak akan pernah bisa menabung. Bila tidak disiplin menabung, punya rumah hanya akan tinggal mimpi”. Mengutip dari housing-estate.com, artikel februari 2018.
.
Strategi menabung perlu diubah. Kalau biasanya kita menabung sisa pendapatan setiap bulan, sekarang dibalik. Mengambil dulu misalnya 20–30 persen dari penghasilan untuk ditabung, baru menghabiskan sisanya untuk pengeluaran bulanan.